Rabu, 04 Mei 2011

bahan ajar olimpiade kimia

BAHAN AJAR OLIMPIADE KIMIA
I.     STRUKTUR ATOM
1.      ATOM
a.       Nukleon/ Atom/ Susunan Atom
Atom Netral = Atom yang tidak bermuatan listrik
proton              = nomor atom
elektron            = nomor atom
netron               = massa atom – nomor atom

Kation = Atom bermuatan positif
proton              = nomor atom
elektron            = nomor atom – muatan
netron               = massa atom – nomor atom

Anion = Atom bermuatan negative
proton              = nomor atom
elektron            = nomor atom + muatan
netron               = massa atom – nomor atom

b.      Isotop
2.      KONFIGURASI ELEKTRON
a.    Konsep Tingkat Energi
Tingkat energi adalah daerah-daerah menemukan elektron berdasarkan perbedaan daya tarik inti terhadap elektron. Tingkat energi menyatakan perbedaan jarak elektron dari inti atom dan kekuatan daya tarik inti terhadap elektron


b.      Bentuk Orbital s
Untitled-Scanned-01

c.       Bentuk dan Orientasi Orbital p
Untitled-Scanned-02
d.      Bentuk dan Orientasi Orbital d
Untitled-Scanned-03
II.   RADIOAKTIVITAS
1.    Jenis Radioaktif
  Sinar Alfa ( )
Sinar alfa merupakan inti helium (He) dan diberi lambang           atau        sinar  memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. bermuatan positif sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke kutub negatif;
b. daya tembusnya kecil (< β < );
c. daya ionisasi besar (> β>  )
Sinar Beta (β)
Sinar beta merupakan pancaran elektron dengan kecepatan tinggi dan diberi lambang  atau
 Sinar beta memiliki sifat-sifat:
a. bermuatan negatif sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke kutub positif;
b. daya tembusnya lebih besar dari
c. daya ionisasinya lebih kecil dari
Sinar Gamma
Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang pendek dan diberi lambang
Sinar γ memiliki sifat-sifat:
a.  tidak bermuatan listrik, sehingga tidak dipengaruhi medan listrik;
b.  daya tembusnya lebih besar dari α dan β ;
c.  daya ionisasi lebih kecil dari α dan β .

2.        Peluruhan Radioaktif
Inti yang tidak stabil akan mengalami peluruhan yaitu proses perubahan dari inti yang tidak stabil menjadi inti yang lebih stabil.
Jenis radiasi yang dipancarkan dari peluruhan zat radioaktif dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel Sifat radiasi dan partikel dasar penyusun inti
Inti atom yang tidak stabil akan mengalami peluruhan menjadi inti yang lebih stabil dengan cara:
a. Inti yang terletak di atas pita kestabilan n/p > 1  (kelebihan neutron) stabil
dengan cara:
1)      Pemancaran sinar beta (elektron).
Pada proses ini terjadi perubahan neutron menjadi proton.
Contoh:
2)      Memancarkan neutron
Proses ini jarang terjadi di alam, hanya beberapa inti radioaktif yang mengalami proses ini.
Contoh :

b.  Inti yang terletak di bawah pita kestabilan n/p < 1  (kelebihan proton), stabil dengan cara:
1.  Memancarkan positron
Pada proses ini terjadi perubahan proton menjadi netron.
Contoh:
2. Memancarkan proton (proses ini jarang terjadi)
Contoh:.
3. Menangkap elektron
Elektron terdekat dengan inti (elektron di kulit K) ditangkap oleh inti atom sehingga terjadi perubahan
Contoh:
c.         Inti yang terletak di seberang pita kestabilan (Z > 83) stabil dengan mengurangi massanya dengan cara memancarkan sinar α.
Contoh:

3.    Reaksi Nuklir/ Reaksi Inti
a.    Reaksi peluruhan/desintegrasi adalah reaksi inti secara spontan memancarkan sinar/partikel tertentu.
Contoh:
b.      Reaksi transmutasi adalah reaksi penembakan inti dengan partikel menghasilkan nuklida baru yang bersifat radioaktif
Contoh:
c.       Reaksi fisi adalah reaksi pembelahan inti yang besar menjadi dua nuklida yang lebih kecil dan bersifat radioaktif
Contoh:
d.      Reaksi fusi adalah reaksi penggabungan inti yang kecil menjadi nuklida yang lebih besar.
Contoh:

4.    Waktu Paro
Waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan unsur radioaktif untuk mengalami peluruhan sampai menjadi ½ kali semula (masa atau aktivitas).
Contoh:
III.     IKATAN KIMIA
1.    Teori VSEPR
Teori ini dikembangkan oleh Walter Heitler dan Fritz London. Teori ini menjelaskan bagaimana atom-atom memakai bersama sepasang elektron.Dasar dari teori ikatan valensi adalah pembentukan ikatan terjadi karena pemakaian bersama pasangan elektron dimana elektron ikatan terlokalisasi antara kedua inti. Makin banyak elektron dipakai bersama makin kuat ikatan yang terbentuk

TABEL 2
TABEL-1

2.    Orbital Hibrida/ Hibridisasi
Hibridisasi adalah peleburan orbital-orbital berbeda dari atom yang sama membentuk orbital-orbital baru dengan tingkat energi yang sama. Orbital baru yang terbentuk disebut orbital hibrida. Orbital hibrida yang terbentuk menentukan bentuk molekul.
Proses hibridisasi berlangsung dalam tahap-tahap berikut.
Elektron mengalami promosi/ berpindah ke orbital yang tingkat energinya lebih tinggi, kecuali molekul yang mempunyai pasangan elektron bebas, seperti H2O dan NH3.
Orbital-orbital bergabung membentuk orbital hibrida yang ekivalen.
Contoh :
Molekul BeCl2
Konfigurasi elktron  4Be : 1s2 2s2
Konfigurasi elektron terluar Be
 2s2        2p0
       
Dalam molekul BeCl2 atom Be mengikat 2 atom Cl. Pengikatan ini dapat berlangsung jika satu elektron dari orbital 2s dipromosikan ke orbital 2p
2s2            2p                        2s1            2p1
                                             ®            
Orbital  2s dan 2p masing-masing berisi 1 elektron dan dapat menerima 2 elektron dari atom Cl. Selanjutnya orbital-orbital tersebut mengalami hibridisasi membentuk orbital hibrida sp yang ekivalen berbentuk linier.   
    sp           
                                 
Molekul CH4
Konfigurasi 6C : 1s2  2s2 2p2
Konfigurasi elektron terluar atom C sebagai berikut
 2s2           2p2
     
Satu elektron dari orbital 2s mengalami promosi ke orbital 2p yang masih kosong menghasilkan konfigurasi :
   2s2             2p2                     2s1            2p3
              ®         
Keempat orbital ( 1 dari 2s dan 4 dari 2p) masing-masing berisi 1 elektron dan dapat menerima 4 elektron dari 4 atom H
Keempat orbital ini berubah menjadi orbital hibrida sp3 yang ekivalen berbentuk tetrahedral.
         sp3
3.    Teori Orbital Molekul
Teori orbital molekul menjelaskan apabila 2 atom berikatan maka orbital-orbital dari elektron valensinya akan bergabung membentuk orbital baru yang disebut orbital molkeul. Orbital molekul memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan orbital atom yang bergabung

IV.              PERHITUNGAN KIMIA
1.      Persamaan Reaksi Kimia
Penulisan persamaan reaksi kimia dapat dilakukan dalam tiga langkah :
a.       Menuliskan persamaan kata-kata yang terdiri dari nama dan keadaan zat pereaksi dan hasil reaksi
b.      Merubah nama menjadi rumus kimia dari zat yang terlibat dalam reaksi
c.       Menyetarakan reaksi dengan memberi koofisien yang sesuai pada kedua ruas
2.      Perhitungan Stoikiometri
3.      Hubungan Massa dan Volume/ Densitas
Densitas = massa/ volume
4.      Rumus Empiris dan Rumus Molekul

5.      Bilangan Avogadro
Mol = jumlah partikel/ bilangan avogadro
Bilangan avogadro = mol : jumlah partikel
Partikel dapat berupa atom, molekul, ion


6.      Perhitungan Konsentrasi
Kemolaran/Molaritas (M)
Kemolaran (M) menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Kemolaran dirumuskan sebagai berikut
           M =    mol zat terlarut
                    Volume larutan dalam liter







M =  mol
          V
 


M = 
 


atau
 

 

                                                                 
 

Keterangan :  M = molaritas
                       V  = volume dalam liter
                       m  = massa dalam gram
Untuk menghitung molaritas larutan yang telah diketahui kadarnya (% massa) dan massa jenisnya (r) digunakan rumus:
                 
Pengenceran
Untuk memperoleh kemolaran yang lebih kecil perlu dilakukan pengenceran sehingga volume larutan menjadi besar. Dalam proses pengenceran jumlah mol zat terlarut tidak berubah.
                                         n1 = n2
       n1 = jumlah mol zat sebelum diencerkan
       n2 = jumlah mol zat setelah diencerkan.
                                 atau
                           V1 x M1 = V2 x M2

Menghitung konsentrasi campuran dua larutan zat yang sama dengan konsentrasi berbeda.
             M =   jumlah mol zat
                        Volume total
             Mcampuran = 

Kemolalan
Kemolalan menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalm 1 kg pelarut.





m =  mol
          P
 


m = 
 

 





V.                 SISTEM PERIODIK UNSUR
1.    Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron  ion
1)         Ion positif (kation)
Ion positif terbentuk dari atom netral yang melepaskan elektron dari kulit terluar.Jumlah elektron yang dilepaskan sama dengan jumlah muatan positif kation tersebut.
Contoh :
 a.  Al (Z = 13)   : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p1
                     Al3+              :  1s2 2s2 2p6
2)         Ion negatif (anion)
Ion negatif terbentuk dari atom netral dengan cara menyerap elektron. Elektron yang diserap mengisi orbital dengan tingkat energi terendah yang belum penuh. Jumlah elektron yang diserap sama dengan jumlah muatan negatif dari anion tersebut.
Contoh :
Cl (Z = 17) :  [Ne] 3s2 3p5
                Cl-              :   [Ne] 3s2 3p6



2.    Sifat Periodik Unsur
3.    Bilangan Oksidasi

VI.              KIMIA ANORGANIK
1.      Kecenderungan Sifat-sifat Unsur Golongan Utama (IA-VIIA)
a.       Titik leleh : dari atas ke bawah titik leleh semakin kecil
b.      Titik didik : dari atas kebawah titik didih semakin kecil
c.       Karakter logam : dari atas kebawah karakter logamnya semakin turun (karakter non logam bertambah)
d.      Sifat Magnetik : dari atas ke bawah sifat magnetnya berkurang
e.       Daya hantar listrik : dari atas ke bawah daya hantar listriknya semakin kecil
2.              Bilangan Oksidasi
IA : +1
IIA : +2
III A : +3 Ti (+3, +1)
IV A : Ge (+4) Sn (+4, +2), Pb (+4, +2)
VA : N (-3), i (+3)
VI A : -2
VII A : -1
3.      Pemberian Nama
a.       Senyawa unsur Utama
Nama logam - nama non logam (nama kation-nama anion) contoh NaCl : natrium klorida
b.      Senyawa Unsur Logam Transisi
Nama Logam (bilangan oksidasi) – nama non logam (FeCl2 : besi (II) klorida)
c.       Senyawa Kompleks
Nama ion kompleks positif-nama ion kompleks negatif
4.      Golongan IA dan IIA
a.       Kereaktifan
Golongan IA : dari atas ke bawah kerekatifannya dengan air meningkat
Golongan II A : dari atas ke bawah kereaktifan bertambah
b.      Reaksi kimia
·        Reaksi dengan air
IA : L + H2O                  MOH + H2
IIA : L + H2O                       L(OH)2 + H2
·        Reaksi dengan Halogen
L + X2               2LX
L + X2               LX2
·        Reaksi dengan oksigen
L + O2               L2O
L + O2               LO
c.       Sifat Oksida
5.      Golongan IIIA
a.       Bilangan Oksidasi B dan Al
B biasnya memiliki biloks +3 dan Al +3 Ga-In-Ti (+1.+3)
b.      Sifat asam basa Aluminium Oksida/Hidroksida
Aluminium membentuk oksida Al2O3 dan basa Al(OH)3 yang berwarna putih dan sukar larut dalam air
c.       Reaksi kimia
BCl3 + H2O             B(OH)3 + HCl
6.      Golongan IVA
a.       Tingkat Oksidasi
IV A : Ge (+4) Sn (+4, +2), Pb (+4, +2) Bi (+3, +5)
7.      Golongan VA
Reaksi PCl3 dengan air
PCl3 + H2O            H3PO4 + 3 HCl
Reaksi NO membentuk NO2
NO + O2                2 NO2
Reaksi NO2 dengan air
2NO2 + H2O                      HNO3 + HNO2
Dimerisasi NO2
NO2 + O2              NO3 + O2
8.      Golongan VIA
a.       Tingkat Oksidasi
S (+4, +6)
b.      Reaksi dengan Air
SO2 +H2O                                                 
SO3 + H2O                         H2SO4 
      
9.      Golongan VIIA
10. Logam-Logam Unsur Transisi
a.       Tingkat oksidasi logam transisi

10.  Kimia Koordinasi
Bilangan koordinasi : jumlah ligan yang terikat pada ion kompleks
VII.            KIMIA FISIKA
1.      Gas
a.       Hukum gas ideal




2.      Sifat koligatif larutan


 




















3.      Termodinamika
4.      Kesetimbangan Kimia


 


5.      Asam-Basa
a.       pH
Derajat dan tingkat keasaman suatu larutan ditentukan oleh konsentrasi ion H+ dalam larutan. Semakin besar konsentrasi ion H+ semakin asam larutan tersebut, larutan pH 1 berarti 10 lebih asam daripada larutan dengan pH 2. Untuk menyatakan konsentrasi ion H+  dalam larutan Sorensen  mengusulkan konsep pH(pangkat hidrogen) yang dirumuskan :
                                  pH   =   - log  [H+]
        Jika [H+] = 1  10-n  maka pH =  n
                [H+] =  a    10-n  maka pH =  n – log a
                pH  =  n    maka  [ H+ ] =  10-n
pH dan [H+] dihubungkan dengan tanda negatif , artinya kedua besaran tersebut berbanding terbalik
 ( semakin besar konsentrasi H+ makin kecil nilai pH).

b.      Kw
      Kw  =    [ H+]   [OH-]
Hubungan   [ H+]  dengan [OH-]
Dalam larutan berair  :    [ H+]   [OH-]   =  Kw
Dalam air murni        :     [ H+] =  [OH-]
Dalam larutan asam   :    [H+] >  [OH-]
Dalam larutan basa     :   [ H+] <  [OH-]
c.       Nilai Ka dan Kb sebagai ukuran kekuatan asam basa
Semakin besar harga Ka dan Kb semakin kuat asam dan basanya demikian sebaliknya
d.      Keasaman dan Kebasaan ion
Hubungan pH dengan pOH dapat dinyatakan sebagai berikut :
           pH   +    pOH    =    pKw
Pada suhu kamar Kw =  10-14  ( pKw = 14) maka dalam larutan  :
    Netral pH = pOH = 7
    Asam  pH < 7
    Basa    pH  >  7
e.       Menghitung pH
Asam
pH asam dihitung berdasarkan konsentrasi H+ dengan rumus pH = - log [H+]
Konsentrasi H+ asam kuat dihitung berdasarkan rumus :
 [H+]  = valensi asam   M asam
Untuk asam lemah konsentrasi ion H+ dihitung dengan rumus:
                         [ H+ ] =         atau  [ H+ ]  =   M a
                                    M  = konsentrasi asam
Basa
Basa dalam air melepaskan ion OH- .Konsentrasi ion OH- untuk basa kuat dihitung dengan rumus :
 [ OH- ]  =   valensi basa x M basa
      Sedangkan untuk basa lemah adalah :
                    [ OH- ]  =         atau   [ OH- ] =  a  M basa
                         M = konsentrasi basa
Dari konsentrasi ion OH- dapat dicari pOH =  - log [OH-]
 Untuk pH = 14 – pOH
Langkah-langkah penentuan pH
Pastikan larutan tersebut asam atau basa.
Pastikan kekuatan larutan tersebut kuat atau lemah
Tentukan [OH-] atau [H+] sesuai rumus di atas.

6.      Kelarutan

7.      pH Campuran
8.      Elektrokimia

9.      Kinetika Kimia
a.       Faktor penentu laju reaksi

KIMIA
VIII.         ANALITIK
Titrasi
Reaksi yang terjadi pada titrasi asam basa merupakan reaksi netralisasi. Pada saat titik ekivalen tercapai jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa dengan persamaan sebagai berikut :
 
                         mol asam  =  mol basa
             M asam  V asam  =  M basa    V basa

Titik ekivalen adalah saat larutan standar tepat bereaksi dengan larutan yang dititrasi.Titik ekivalen dapat diketahui dengan adanya perubahan warna larutan indikator yang ditambahkan ke dalam larutan yang dititrasi. pH pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir titrasi. Perbedaan volume titik akhir titrasi dengan titik ekivalen disebut kesalahan titrasi. Larutan standar adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya.Berikut gambar titrasi menentukan konsentrasi larutan asam A dengan larutan standar basa B.

Kurva Titrasi
Jika asam atau basa dititrasi, setiap penambahan zat pentitrasi akan terjadi perubahan pH.Grafik yang merupakan hubungan perubahan pH terhadap volume zat pentitrasi yang ditambahkan disebut kurva titrasi. Adapun perhitungan pH saat terjadi titrasi dapat dibedakan 4 tahap sebagaimana tabel berikut.
. Titrasi sesama larutan kuat (asam atau basa)
Asam ditirasi basa kuat
pH = - log [H+]
Kriteria perhitungan pH saat titrasi
Basa dititrasi asam kuat
pOH = -log [OH-]
[H+]  =  valensi . [Asam]
titik awal
[OH-] = valensi. [Basa]
[H+] =
Daerah antara(sebelum titik ekivalen)
[OH-]=
Vasam. Masam = Vbasa.Mbasa
[H+] = [OH-]
[H+]  =
Saat titik ekivalen
Vbasa.Mbasa = Vasam. Masam
[H+] = [OH-]
[H+]  =
[OH-] =
Setelah titik ekivalen
[H+]=









Tidak ada komentar:

Posting Komentar